PARADIGMA BARU DALAM MENGAJAR MATEMATIKA BERDASARKAN KURIKULUM 2013 Miladia Nur Hafni dan Abdul Azis Saefudin Universitas PGRI Yogyakarta Email

PARADIGMA BARU DALAM MENGAJAR MATEMATIKA BERDASARKAN KURIKULUM 2013
Miladia Nur Hafni dan Abdul Azis Saefudin
Universitas PGRI Yogyakarta
Email: [email protected], [email protected]
Abstract
Kurikulum 2013 yang merupakan perkembangan dari kurikulum 2006 (KTSP), dengan implmentasi kurikulum 2013 diharapkan dapat memperbaiki paradigma pembelajaran yang membentuk tingkat kreatifitas peserta didik. Kurikulum 2013 lebih memfokuskan pada khusunya pada mata pelajaran matematika untuk mendukung semua kompetensi baik dalam spiritual, sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Pemerintah telah menetapkan sekolah untuk menggunakan kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran sesuai standar proses yang berlaku dengan menjadikan konsep kurikulum 2013 mengarahkan kepada tujuan pendidikan.

Berdasarkan pemikiran penulis, dalam mengimplementasi kurikulum 2013 Guru memiliki tugas yang kompleks meliputi: melakukan penilaian dan evaluasi; melalukan perencanaan pembelajaran yang baik; mengimplementasi rancangan pembelajaran yang telah dibuat dan mengubah sesuai kondisi yang ada saat proses pembelajaran berlangsung.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Kata kunci : Kurikulum 2013, Mengajar.
Pendahuluan
Akhir – akhir ini banyak pihak yang membicarakan kurikulum 2013. Kurikulum tersebut konon dikabarkan diluncurkan sebagai alternatif mengubah paradigma pendidikan, dari pendidikan yang berorientasi kognitif menjadi pendidikan yang berorientasi skill.
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sudah diajarkan pada anak mulai dari Sekolah Dasar. Dalam pembelajaran matematika yang saat ini menggunakan Kurikulum 2013 dipercaya bisa memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia, karena dalam Kurikulum 2013 pembelajaran akan lebih aktif dan dapat membentuk peserta didik yang berani mengeluarkan pengetahuannya. Guru dituntut menguasai bagaimana implementasi mengajar dalam kurikulum 2013. Dalam mengajar berdasarkan kurikulum 2013 guru diharuskan membimbing peserta didik untuk menemukan atau membangung pengetahuannya, sehingga peserta didik dapat mengikuti pembelajaran secara aktif. Hal ini sesuai dengan paradigma pendidikan dimana harus bergeser dari belajar yang berfokus pada penugasan pengetahuan ke belajar realistis yang lebih bermakna.Hasil Kajian
Paradigma Pembelajaran
Paradigma dapat dimaknai sebagai model pola, contoh (John M. Echols dan Hassan Shadily, An English-Indonesia Dictionary, 1990). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia paradigm dimaknai sebagai model dalam teori imlu pengetahuan dan kerangka berpikir.Paradigma dalam mengajar sangat diikuti oleh perkembangan teori belajar yang sedang berkembang. Pada saat paradigma behavioristic yang berpandangan bahwa pembelajaran menekankan pada penumpukan materi yang perlu ditransformasikan kepada siswa, sehingga dalam pembelajaran guru banyak memberikan latihan – latihan (drill). Namun, dengan berkembangnya teori belajar konstruktivisme, paradigma pembelajaran berubah dari sekedar transformasi materi kepada siswa menuju kepada pembelajaran yang lebih bermakna dengan memberikan peluan yang cukup besar kepada siswa untuk mengkonstruksi pemahamannya sendiriberdasarkan pengalaman belajar. Konstruktivisme adalah suatu pendekatan terhadap belajaryang berkeyakinan bahwa orang secara aktif membangun atau membuat pengetahuannya sendiri dan realitas ditentukan oleh pengalaman orang itu sendiri pula (Abimanyu, 2008: 22).Berikut merupakan beberapa ciri – ciri paradigma baru pembelajaran yang menganut teori konstruktivisme (Mulyana, 2005: 240)
Pembelajaran berpusat pada siswa (meliputi filsafat progresivisme), lingkungan yang merupakan pusat bagi siswa, kekuatan dan tanggung jawab yang utama berpusat pada diri siswa.
Guru menjadi fasilitator dan creator yang menyusun skenario pembelajaran.

Siswa mandiri, tidak dikontrol oleh guru.

Berfokus pada proses yang artinya siswa ikut dalam proses pengolahan dan penerimaan informasi/konsep materi.

Siswa belajar secara independent tidak tergantung pada guru.

Siswa mengevaluasi diri sendiri membuat keputusan, dan bertanggung jawab atas pembelajaran sendiri, karena itu siswa dapat secara tuntas memahami pengetahuannya.

Siswa aktif menyimpulkan dan mensintesiskan pengetahuan dari berbagai sumber.

Pembelajaran di kelas dapat diperkaya dan pelaksanaan pembelajaran fleksibel, tidak harus selalu didalam kelas.

Guru disamping menjadi fasilitator dan creator, juga menjadi sumber ajar dan teman bagi siswa. Pada teori konstruktivisme prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa.
Mengajar Matematika
Istilah mengajar hampir sama dengan istilah belajar, hanya saja dibedakan dengan peristiwa yang berbeda, tetapi mengajar dan belajar mempunyai hubungan yang sangat erat, bahkan keduanya terjadi kaitan dan interaksi satu sama lain.

Mengajar adalah partisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kitis, dan mengandalkan justifikasi (Suparno, 1997:65). Pada teori konstruktivisme, mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa menciptakan sendiri pengetahuannya.Menurut Oemar Hamalik, mengajar memiliki beberapa definisi pentin, yaitu :Mengajar ialah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid di sekolah.
Mengajar ialah mewariskan kebudayaan kepada generasimuda melalui lembaga pendidikan sekolah.

Mengajar ialah usaha mengorganisasikan lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa.

Mengajar atau mendidik itu adalah memberikan bimbingan belajar kepada murid.

Mengajar adalah kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga Negara yang baik sesuai dengan tuntutan masyarakat.

Mengajar adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari – hari.

Istilah matematika berasal dari bahasa bahasa Yunani “mathein” atau “mathenein”, yang artinya mempelajarai. Sedangkan dalam bahasa sanskerta berasal dari kata “medha” atau “widya” yang artinya kepandaian, ketahuan, intelegensi (Masykur, 2007:42).

Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang terdapat pada kurikulum pendidikan di Indonesia, sehingga lebih baik mulai. Matematika adalah bahasa simbol, ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif, ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan, ke aksioma atau postulat, akhirnya kembali ke dalil (Ruseffendi, 1990:2). Matematika merupakan pola pikir deduktif yang artinya suatu teori atau pernyataan dalam matematika dapat diterima kebenarannya apabila telah dibuktikan secara deduktif (umum).Dari beberapa pendapat di atas , dapat disimpulkan mengajar matematika adalah kegiatan menyampaikan pengetahuan dari pengajar kepada peserta didik tentang matematika guna membantu peserta didik menghadapi masalah yang terdapat pada kehidupan sehari – hari dan guna mencapai tujuan pendidikan di Indonesia.

Kurikulum 2013
Kurikulum merupakan suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar-mengajar (Nana Syaodih,2009:5). Ciri khas dari kurikulum 2013 pada pembelajaran menggunakan pendekatan scientific, sedangkan pada penilaian menggunakan penilaian autentik. Penilaian autentik yang meliputi tiga aspek, yaitu aspek penilaian sikap, pengetahuan, dan ketrampilan.Tujuan dari pengembangan kurikulum 2013 menurut Kemendikbud adalah (Permendikbud No.69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar Dan struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah);
Kurikulum 2013 dikembangkan dari kurikulum 2006 (KTSP) yang dilandasi pemikiran tentang tantangan masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogik, kompetensi masa depan, dan fenomena negatif yang mengemuka (Pedoman Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, 2013: 4).

Tabel perubahan pola pikir pada Kurikulum 2013
No KTSP 2006 Kurikulum 2013
1. Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari Standar Isi Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari kebutuhan
2. Standar Isi dirumuskan berdasarkan Tujuan Mata Pelajaran (Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran ) Standar Isi diturunkan dari Standar Kompetensi Lulusan melalui Kompetensi Inti yang bebas mata pelajaran
3. Pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap, pembentuk keterampilan, dan pembentuk pengetahuan Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, ketrampilan, dan pengetahuan
4. Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai
5. Mata pelajaran lepas satu dengan yang lain, seperti sekumpulan mata pelajaran terpisah Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti (tiap kuliah)
Kurikulum 2013 mempunyai empat kompetensi inti (KI) yang berisi tujuan dari proses pembelajaran. Rumusan kompetensi inti menggunakan notasi sebagai berikut (Permendikbud No.69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar Dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah):
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang berbasis karakter dan kompetensi (Mulyasa, 2013:163). Kurikulum 2013 tidak hanya menekankan kepada penugasan kompetensi siswa, melainkan juga pembentukan karakter. Sesuai dengan kompetensi inti (KI) yang telah ditentukan oleh Kemendikbud.Pembahasan
Kurikulum 2013 membutuhkan perubahan paradigma dalam pembelajaran, khusunya dalam pembelajaran matematika yang sebagian besar peserta didik merasa tidak senang dengan mata pelajaran tersebut. seorang guru dituntut menciptakan paradigma dalam mengajar yang semula pembelajaran konvesional yang lebih dititik beratkan pada penugasan siswa ke pembelajaran yang kooperatif yang mengaktifkan peserta didik untuk mempergunakan berbagai sumber belajar.

Implementasi kurikulum 2013 salah satunya pendekatan pembelajaran dari teacher centre ke student centre, dimana pembelajaran berpusat kepada peserta didik karena pembelajaran tidak lagi hanya mendengarkan guru menjelaskan materi dan mengerjakan tugas yang diberikan guru kepada peserta didik. Peserta didik dituntut melakukan lima aktivitas belajar setiap kali pembelajaran, yaitu: mengamati, bertanya, melakukan percobaan atau dapat dikatakan mencari informasi, melakukan penalaran ataupun mengolah informasi, dan mengkomunikasikan. Lima aktivitas tersebut dapat mendorong siswa yang kreatif dan inovatif.Guru yang merupakan kunci dari sebuah pembelajaran sudah tidak lagi banyak berbicara di depan kelas melainkan guru membuat skenario proses pembelajaran, guru harus memilih model,metode dan strategi yang sesuai dengan materi pembelajaran. Bagi guru tidak mudah memilih model, metode dan strategi pembelajaran yang tepat sehingga materi matematika mudah dipahami oleh siswa, dan siswa dapat terampil serta tertarik untuk mempelajarinya. Strategi pembelajaran merupakan taktik yang digunakan guru agar pembelajaran terlaksana secara tepat sasaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.Guru juga dituntut menyusun pedoman penilian, tidak hanya penilaian kognitif namun dalam implementasi kurikulum 2013 guru menyusun pedoman penilaian mencakup empat Kompetensi Inti antara lain penilaian sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan ketrampilan. Untuk penilaian sikap spiritual dapat dilakukan dengan pengamatan saat berdoa untuk awal pembelajaran dan akhir pembelajaran. Sikap sosial dapat dilakukan penilaian dengan pengamatan saat proses belajara mengajar dilaksanakan. Sedangkan untuk penilaian pengetahuan dan ketrampilan dilakukan dengan tes.Pada proses pembelajaran, guru tidak lagi dengan berceramah tentang materi yang disampaikan dan selanjutnya peserta didik ditugaskan untuk latihan soal, dengan begitu peserta didik akan merasa bosan dan malas mengikuti proses pembelajaran apalagi dengan mata pelajaran matematika yang sudah dianggap susah dan membosankan. Kurikulum 2013 menuntut seorang guru untuk tidak terlalu dominan pada saat proses pembelajaran di dalam kelas, melainkan peserta didik yang lebih dominan. Pada kurikulum 2013 guru menjadi fasilitator, yang berarti guru bertugas memfasilitasi pembelajaran dengan berusaha dan mengajak serta membawa peserta didik yang ada di kelasnya untu berpatisipasi. Memfasilitasi pembelajaran bukanlah hal yang gampang jika seorang guru tidak memiliki cukup pemahamantentang psikologi pendidikan dan berbagai teori pembelajaran berikut model – model dan metode inovatif untuk mengajar. Fasilitas pembelajaran bermakna bahwa semua peserta didik dengan segala keunikan dan karakteristik masing – masing harus dapat digugah dan distimulasi oleh seorang guru untuk mengikuti pembelajaran yang sedang berlangsung. Guru sebagai fasilitator yang baik di dalam kelasnya, maka ia akan berusaha untuk:
Memiliki pemahaman dan pengetahuan (mengenali) kekuatan dan kelemahan setiap peserta didikyang ada di kelas yang diampunya.

Memiliki kepedulian kepada seluruh peserta didik yang didalam kelasnya dan sedang berupaya mengikuti pembelajaran.

Memiliki kesadaranpenuh bahwa setiap peserta didik memiliki hak yang sama untuk belajar.

Memahami bahwa setiap peserta didik mempunyai minat dan gaya belajar yang berbeda – beda.
Mempunyai jiwa kepemimpinan yang baik sehingga dapat memanajemen kelasnya dan pembelajarannya dengan baik dan efektif.

Para guru dituntut untuk belajar dan berlatih menjadi fasilitator yang baik dalam kelasnya, khususnya guru yang telah terbiasa mengajar dengan teknik, metode, dan strategi lama yang mungkin harus dipertimbangkan ulang penggunaanya didalam kelas, seperti terus berceramah, dan mendominasi pembelajaran dari awal sampai akhir pembelajaran.

Kesimpulan
Kurikulum adalah bagian penting pendidikan dimana kualitas suatu negara ditentukan oleh nilai pendidikan. Kurikulum 2013 yang merupakan perkembangan dari kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum 2006 (KTSP) diharapkan dapat merubah paradigma pembelajaran, karena paradigma dalam pembelajaran menentukan berhasil atau tidaknya suatu pendidikan. Guru adalah kunci dari proses pembelajaran yang harus merubah paradigma tersebut sehingga suatu pemeblajaran dikatakan berhasil.
Daftar Pustaka
Abimanyu, Soli dkk. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Direktoral jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Hamalik, Oemar. 2011. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
John M. Echols dan Hassan Shadily. 1990. An English-Indonesian Dictionary. Jakarta: PT. Gramedia
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Pedoman Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayan dan Penjaminan Mutu Pendidikan
Masykur,Moch dan Abdul Halim. 2007. Mathematical Intelligence. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Mulyasa. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT.Remaja Rosda
Ruseffendi, ET. 1990. Pengajaran Matematika Modern dan Masa Kini. Bandung: Tarsito
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2009. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosyadakarya
Suparno,Paul. 1997. Filsafat Konstruktisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius